MOS OSIS MAN 1 Jakarta akan dimulai 13 juli 2009, rencananya acara tersebut bertempat di ruang multimedia MAN 1 Jakarta. Para calon siswa MAN 1 Jakarta yang datang sabtu pagi tadi 11 juli 2009 diberi penjelesan oleh anggota OSIS keperluan apa saja yang harus di bawa nanti menjelang MOS.Anggota OSIS pun tidak mau main-main dalam momen seperti ini, karena DIKNAS telah menjelaskan bahwa tidak boleh berlebihan dalam proses orientasi maka dari itu, para anggota OSIS MAN 1 Jakarta yang di ketuai A. Syahruddin mengintrupsikan kepada kawan-kawan untuk tidak membebankan para calon siswa dalam mengikuti MOS, begitu juga pembina OSIS MAN 1 Jakarta, Bpk. Maktal Al hadi.
Pada acara tersebut/sabtu 13 juli, turut hadir juga wakamad bidang kesiswaan serta wakamd bid kurikulum, Bpk Tamuri S,P.d serta Trisnadian M,Pd. Namun patut disayangkan pada saat acara berlangsung hanya segelintir anggota OSIS saja yang datang, hasilnya pembina OSIS pun memberikan pernyataan kepada seluruh anggotanya yang tidak hadir senin nanti 13 juli 2009, tidak akan ikut menorientasikan calon siswa MAN 1 Jakarta untuk 3 hari mendatang.
Posting Terakhir
Sabtu, 11 Juli 2009
MOS OSIS MAN 1 JAKARTA MULAI 13 JULI 2009
Label: Berita MAN 1, Berita OSISSelasa, 23 Juni 2009
Madrasah Bertaraf Internasional Akan Dibangun di Pekalongan
Label: Berita MAN 1, UmumPekalongan (GP-Ansor): Kabupaten Pekalongan terpilih sebagai lokasi pendirian madrasah bertaraf internasional. Pembangunan itu akan menjadi pionir di Jateng dan rencananya dicanangkan langsung oleh Menteri Agama, Maftuh Basyuni Hal itu diketahui dari audiensi Kepala Kantor Depag Jateng H Masyhudi dengan Bupati Hj Siti Qomariyah di Rumah Dinas Bupati, Rabu.
Kepada wartawan, Masyhudi mengatakan, Kabupaten Pekalongan terpilih karena kultur dan sarana prasarananya dinilai memenuhi syarat.”Selain itu Bupati juga mempunyai keinginan kuat dan mau menyediakan lahan, sehinga kami memilih Kabupaten Pekalongan,” tuturnya.
Untuk kejelasan madrasahnya masih dalam proses kajian. Namun yang berkembang sementara ini adalah madrasah aliyah (setingkat SLTA-red). ”Sejauh ini yang berkembang rencananya adalah madrasah aliyah,” tandasnya.
Untuk merealisasikan itu, Bupati bersama Kakanwil Depag dan Depag Kabupaten akan bersama-sama merencanakan dan mengkaji sehingga ditandatangani kesepakatan dengan Menteri Agama. ”Kami berharap perencanaan itu bisa diselesaikan tahun ini,” tegas Masyhudi.
Bupati Hj Siti Qomariyah menilai rencana itu sangat membanggakan. Dia berharap bisa secepatnya direalisasikan sehingga bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan.”Saya akan secepatnya memerintahkan kepada Dinas Pendidikan agar bersama-sama merencanakan langkah dengan Depag sehingga bisa cepat direalisasikan,” tandasnya.
Selain madrasah bertaraf internasional, bupati juga berharap ada penambahan fasilitas pendidikan yang lain yang bisa diusahakan oleh Depag. ”Kami saat ini sedang memenuhi fasilitas pendidikan SLTA, kami sudah membuat program sekolah satu atap. Kami berharap ada juga penambahan madrasah aliyah,” tuturnya.
Sebelum audiensi dengan Bupati, Kakanwil Depag didampingi Kepala Depag Kabupaten Pekalongan H M Bisri lebih dulu memberikan ceramah dan pengarahan dengan para guru agama dan jajaran pegawai depag di Islamic Centre Kedungwuni. (sm)
Problema Besar Madrasah
Tahun ajaran baru segera tiba para siswa sekolah dasar(SD/sekolah menengah pertama(SMP) berbondong-bondong mencari sekolah favoritnya, ada yang mau masuk SMA yang notabenya adalah berprestasi ada juga yang masuk sekedar karena memang tidak diterima disana sini, atau ibaratnya tempat pembuang akhir siswa(TPS).
Sangat jelas terlihat animo masyarakat untuk memasukan anaknya ke sekolah madrasah sangat rendah.
Problema besar pertama yang dihadapi madrasah di Indonesia sekarang ini adalah belum optimalnya tingkat favoritas masyarakat terhadap lembaga madrasah itu sendiri. Hal ini memang kenyataan. Jangankan madrasah menjadi pilihan utama bagi masyarakat, untuk memadrasahkan (menyekolahkan) putra-putri atau istilah menterengnya menjadi institution of choice saja belum banyak muncul, sedangkan anggota masyarakat yang sama sekali belum mengenal madrasah pun masih banyak. Ini lucu karena eksistensi madrasah di Indonesia setidaknya sudah puluhan tahun. Jadi, tidak dapat disebut ‘bayi’ kemarin sore.
Memang benar di kalangan tertentu, terutama kalangan pesantren, minat masyarakat terhadap madrasah sangat tinggi dan angka statistik pun telah menunjukkan tingginya jumlah madrasah di Indonesia. Meski demikian secara nasional tingkat favoritas masyarakat kita terhadap madrasah lebih rendah dibanding sekolah pada umumnya.
Problema besar kedua menyangkut lebih rendahnya prestasi akademis ilmu umum siswa madrasah dibanding siswa sekolah. Sependapat atau tidak, banyak warga madrasah yang membedakan pengetahuan, ilmu, dan keterampilan menjadi dua; yaitu ilmu umum (seperti matematika, kimia dan teknologi informasi (TI) serta ilmu agama (seperti membaca Alquran, memahami Hadis, dan Fiqih ataupun Akidah Akhlaq. Secara hipotetik lebih rendahnya prestasi akademis ilmu umum siswa madrasah dibanding siswa sekolah inilah yang menyebabkan lebih rendahnya tingkat favoritas masyarakat terhadap madrasah dibanding terhadap sekolah.
Kenapa hal itu terjadi? Ini muncul karena kurikulum madrasah hanya berisikan 70 persen ilmu umum, sedangkan kurikulum sekolah berisi 100 persen ilmu umum dengan asumsi mata pelajaran pendidikan agama dikecualikan.
Sebenarnya pencapaian nilai ujian nasional (NUN) madrasah cukup membanggakan. Ilustrasi riilnya sebagai berikut. Secara nasional pencapaian rata-rata NUN tertinggi tahun 2006 untuk SMA program IPA sebesar 28,97 oleh SMA Negeri 1 Bangil Pasuruan, untuk MA program IPA sebesar 27,57 oleh MA Ibarurrahman Stabat. Peringkat kedua sebesar 28,38 untuk SMAN Genteng dan 27,21 untuk MA Jeumala Amal. Peringkat ketiga sebesar 28,33 oleh SMA Negeri 1 Pandaan dan 27,10 oleh MA Negeri Bangkalan, dan seterusnya. Untuk SMA dan MA jurusan IPS dan bahasa petanya sama saja. Demikian pula untuk SMP dan MTs.
Pencapaian rata-rata NUN siswa madrasah memang lebih rendah daripada siswa sekolah, tetapi terpautnya relatif kecil. Sebenarnya hal ini membanggakan bagi madrasah mengingat substansi ilmu umum di dalam kurikulum madrasah hanya 70 persen. Apakah masyarakat kita dapat memahami kebanggaan tersebut? Pada umumnya tidak!
Mereka tahunya pencapaian prestasi akademis siswa madrasah lebih rendah daripada siswa sekolah. Bagi insan madrasah, memang hal ini terasa pahit, tetapi harus dapat diterima.
Solusi kreatif
Bagaimana memecahkan problema besar kemadrasahan tersebut? Ada beberapa cara yang perlu dipertimbangkan. Cara yang paling konvensional adalah menyampaikan ilmu umum yang porsinya sama dengan yang diberikan di sekolah, kemudian ditambah dengan ilmu agama. Cara ini bagus, tetapi hanya efektif dijalankan oleh madrasah dengan siswa yang diasramakan alias dipondokkan.
Madrasah yang eksistensinya di tengah pesantren biasanya mampu menjalankan cara ini secara produktif. Namun, pada madrasah nonpesantren yang siswanya tidak menginap, cara ini sangat berat untuk dijalankan.
Cara modern yang bisa dijalankan adalah membenahi metode pembelajaran (learning method), meningkatkan mutu guru (teacher quality), atau melengkapi sarana dan fasilitas belajarnya (facility). Ketiga pembenahan ini bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Tetapi, lebih produktif dijalankan secara terintegrasi. Lebih daripada itu bahkan cara konvensional dengan cara modern tersebut pun bisa dipadukan secara produktif.
Apakah ada SDM di madrasah yang dapat menjalankan cara tersebut di atas? Tentu saja ada, bahkan banyak! Masalahnya di madrasah itu sendiri banyak mutiara terpendam yang belum digali, diasah, dan dimanfaatkan potensinya.
Solusi kreatif
Bagaimana memecahkan problema besar kemadrasahan tersebut? Ada beberapa cara yang perlu dipertimbangkan. Cara yang paling konvensional adalah menyampaikan ilmu umum yang porsinya sama dengan yang diberikan di sekolah, kemudian ditambah dengan ilmu agama. Cara ini bagus, tetapi hanya efektif dijalankan oleh madrasah dengan siswa yang diasramakan alias dipondokkan.
Madrasah yang eksistensinya di tengah pesantren biasanya mampu menjalankan cara ini secara produktif. Namun, pada madrasah nonpesantren yang siswanya tidak menginap, cara ini sangat berat untuk dijalankan.
Cara modern yang bisa dijalankan adalah membenahi metode pembelajaran (learning method), meningkatkan mutu guru (teacher quality), atau melengkapi sarana dan fasilitas belajarnya (facility). Ketiga pembenahan ini bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Tetapi, lebih produktif dijalankan secara terintegrasi. Lebih daripada itu bahkan cara konvensional dengan cara modern tersebut pun bisa dipadukan secara produktif.
Apakah ada SDM di madrasah yang dapat menjalankan cara tersebut di atas? Tentu saja ada, bahkan banyak! Masalahnya di madrasah itu sendiri banyak mutiara terpendam yang belum digali, diasah, dan dimanfaatkan potensinya.(*osisman1/depag
Sabtu, 10 Januari 2009
Dzikir dan Doa bersama
Sabtu 10 Januari 2009 MAN 1 Jakarta mengadakan Dzikir dan Doa bersama sekaligus santunan anak yatim disekitar lingkungan MAN 1 Jakarta.Acara dzikir tersebut dihadiri oleh Kepala MAN 1 grogol yang baru yaitu M.Yunus M,Pd dan H M,Yunus selaku ketua komite serta Ust.Syukur yang memimpin Dzikir dan doa.Acara berlangsung sangat hikmat dikarenakan tujuan acara tersebut untuk kelancaran kelas XII untuk menghadapi Ujian Nasional dan kelas X-XI dalam melanjutkan semester genap.Sesudah acar dzikir berlangsung dipimpin oleh ketua OSIS achmad syahrudin membagikan santunan kepada sebagian anak yatim secara simbolis.
Selengkapnya...